Oleh: Afriansyah
Embun
pagi ini masih begitu terasa.Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan
mengecil dan akhirnya menghilang.Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya
yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan.Terlihat sesosok anak kecil yang
belum genap berusia 10 tahun.Pakaian putih dan celana merah yang dikenakannya
menambah semaraknya pagi ini.
“aku
pergi dulu ya mak” ucapnya. “uhuk…uhuk… hati-hati ya nak” jawab ibunya yang
sejak seminggu lalu sakit. “hati-hati kalau ketemu konde…nanti kamu terseret” sambung sang ibu yang cemas terhadap
anaknya. “iya bu” ucapnya sambil mencium tangan halus dan lembut ibunya. Sang
ibu pun mencium keningnya dan seperti mengucapkan sebuah do’a untuknya.
Inilah
Haris Nursalam. Sebuah nama yang bagus untuk orang semiskin dia. Nama ini
diberikan oleh seorang ustadz di desa Sungai Penibung, Kutipang Raya. Nama ini
memiliki arti “penjaga cahaya keselamatan” .dia terlahir dari keluarga yang
tidak mampu. Ketika dia berumur 6 tahun ayahnya pergi meninggalkannya dan sang
ibu untuk pergi bekerja ke ibukota.Sampai kini kabar tentang ayahnyapun tiada
didapati.
Sekolah
haris memang jauh dari rumah.Jaraknya bisa mencapai 5 km. Apalagi dengan
kondisi jalan yang bisa dibilang tidak cukup bagus.Bahkan bisa dibilang hancur.
Kalau hujan turun bisa dipastikan haris dan teman yang lain tidak bisa melewati
jalan itu.Itupun baru sampai sungai konde yang mengalir deras memisahkan dua
perkampungan sederhana.Apalagi semenjak ada pabrik kelapa yang berada didesa
sebelah membuat kondisi jalan semakin parah kerusakannya.Hal ini terjadi karena
mobil pabrik yang setiap hari beroperasi dengan mengangkat beban yang melebihi
kapasitas jalan sehingga jalan banyak yang hancur.
Hidup
yang begitu berat ini tidak membuatnya patah semangat dalam menjalani
hidup.Selalu saja tampak wajah yang ceria keluar dari parasnya yang
mungil.Senyumnya yang khas membuat orang semakin yakin kalau hidupnya tanpa
masalah, padahal masalah yang ditanggungnya cukup besar untuk anak sekecil itu.
Sepulang
dari sekolah ia harus cepat-cepat pulang kerumah. Tak bisa ia habiskan waktu
siangnya untuk bermain bersama-sama dengan temannya yang lain. Ia harus merawat
ibunya yang sakit-sakitan. Bahkan ia harus bekerja untuk bisa makan sesuap
nasi.
***
“Assalamualaikum”
suara itu terdengar sayup-sayup dihadapan sebuah rumah reyot.Dindingnya terbuat
dari anyaman bambu. Lantainya terbuat dari batang pohon pinang yang dibelah
menjadi 2 kemudian disusun menjadi lantai. Atapnya terbuat dari rumbia.Rumahnya berukuran 5 x 6 meter
dengan halaman didepan rumahnya.
Tidak
terdengar suara sahutan dari dalam rumah.“Assalamualaikum” Harispun
mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Kali ini juga tidak terdengar suara
sahutan sang Ibu yang sedang dalam keadaan sakit. Kali ini Haris mengetuk pintu
yang terbuat dari kayu itu.
Tampak
kekhawatiran di wajah Haris.Firasatnya mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada
ibunya.Betapa tidak, dari tadi ibunya tidak juga menyahut salamnya.Sudah
beberapa kali pintu rumahnya yang reyot digedornya, tapi suara yang
diharapkannya belum juga terdengar.
Saat
itu, hari begitu panas.Matahari bersinar begitu terik menembus kulit muka haris
yang nampak cemas dengan keadaan ibunya.Orang-orang tidak nampak berkeliaran di
desa sungai penibung.Hidupnya bagaikan sendiri dalam sulitnya hidup ini.
Tiba-tiba
datang seseorang paruh baya dengan wajah yang selalu terpancar senyum dari
bibirnya.Ternyata dia adalah pak Mudi, tetangga Haris yang biasa memberinya
uang.Pak Mudi ini merupakan salah satu orang yang terpandang di kampung sungai
penibung. Tanahnya yang luas ditanami
berbaris-baris kelapa. Di sanalah biasanya Haris bekerja membantu pak Mudi.
“Kamu
mencari ibumu?” kata pak Mudi dengan melemparkan senyum kepada haris.“ ia pak”
jawab Haris dengan singkat. “daritadi aku ketuk-ketuk pintu tapi ibu tidak ada
menyahut dan membukakan pintu untukku” sambungHaris. “bapak juga daritadi tidak
melihat ada ibumu. Biasanya dia duduk diluar”
***
“bapak…aku
mau sekolah. Aku ingin seperti yang lain.” Ucap haris kecil. “nanti ya nak,
kalau bapak ada uang” jawab sang bapak untuk menenangkan keinginan anaknya.
“jawabnya itu terus…aku mau sekolah” teriaknya sambil menangis. “iya nanti
bapak carikan uangnya. Udah teruskan mainnya dengan udin bapak mau istirahat
dulu” jawab bapak haris menenangkan sang anak.
“tuh
dengarkan din. Aku nanti mau sekolah.Aku
mau jadi kepala desa, kamu mau tidak jadi sepertiku din?” kata haris kepada
udin teman main congkaknya.“ ah aku
ngak mau, nanti aku kayak pak kades yang kemarin dibawa pak polisi kata bapakku
dia maling uang. Aku mau jualan aja
kayak bapakku” jawab udin membalas
tawaran Haris. ”hmm… gitu ya din. Tapi aku tidak mau seperti dia din. Aku tidak
mau ditangkap polisi nanti kasihan mamaku” harispun menanggapi.
“ah kamu curang
ne” Harispun berteriak. Ternyata udin berbuat curang saat bermaincongkak.
Congkak adalah sebuah permainan tradisional
yang dimainkan oleh 2 orang terdiri dari
papan congkak dan biji congkak. Biasanya papan congkak terbuat dari kayu,
plastik, bahkan bisa dibuat ditanah dengan membuat melubangi tanah.Papan ini
terdiri dari 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling
berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil disisi
pemain dan lubang besar disisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain.
Setiap pemain bergantian mengambil buah dari salah satu lubang miliknya
kemudian meletakkan satu ke lubang sebelah kanannya dan seterusnya.
“hehe…
akhirnya ketahuan juga” ucap udin dengan malu-malu. “ permainan aku sebenarnya
mati ni. Sekarang giliranmu” tambah udin yang sudah ketahuan bermain curang.
“huh… kecil kecil dah pandai curang” ucap haris. “hehe…” udin hanya bisa
senyum-senyum karena udah terlanjur malu.
Betapa
bahagianya anak itu.Haris kecil belum begitu mengerti dengan kondisi orang
tuanya yang hidup dalam garis kemiskinan.sang ayah mendengar percakapan
putranya dan berkata “Do’akan ayah
semoga ayah dapat uang banyak”. “ayah mau kemana?” jawab haris yang masih
berusia 6 tahun. “besokayah mau pergi keibukota untuk mencari uang sekolahmu”
pesan sang ayah.
Keesokan
hari ayah Harispun pergi meninggalkan istri dan anaknya.Dia harus pergi
keibukota untuk mencari uang.Harispun hanya bisa terdiam.Sang ayahpun mencium
kening putranya dan pergi. Tak lama kemudian sang ayah sudah menghilang dari
pandangan si Haris.
***
Haris
tak ingin lagi kehilangan orang yang ia sayangi. 4 tahun yang lalu ia telah
kehilangan ayahnya yang sampai saat ini belum tau kemana arahnya. Kini ia harus
dihadapkan pada keadaan ibunya. “coba kamu ketok lagi iris” kata pak mudi.
“kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibumu” terangnya lagi
untuk menenangkan Haris yang mulai gelisah.
Setelah
lama di gedor belum juga terdengar suara ibu haris. “bagaimana ini pak? Ibu
tidakmenyahut panggilan Haris.Apa ibu masih marah dengan haris karena tadi pagi
lambat bangun” ucap haris.Terlihat mata Haris kini sudah mulai berkaca-kaca.
“ya udah. Kita dobrak aja bagaimana?” sahut pak Mudi memberikan solusi. “nanti
bapak yang akan memperbaiki pintumu” tambahnya.
Harispun
setuju untuk mendobrak pintu rumahnya yang sudah tampak tua.Maklum rumah itu
merupakan rumah peninggalan neneknya Haris yang telah meninggal ketika Haris
berusia 2 tahun.Walaupun rumah tua, ternyata mereka berdua kesulitan untuk
mendobrak rumah itu.Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pintu itu
berhasil terbuka.
Setelah
pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Haris melihat kondisi ibunya yang
terlihat tidak berdaya diatas tikar.Selama ini haris dan ibunya tidak pernah
merasakan empuknya tidur diatas kasur.Selama ini mereka hanya tidur beralaskan
tikar.Begitu kasihan melihat penderitaan yang dialami oleh ibu haris.Matanya
hanya bisa menatap anaknya yang matanya sudah berkaca-kaca.
“nak…”
panggil ibunya lirih. Harispun mendekati ibunya yang sedang sekarat. “ibu sudah
tidak kuat lagi nak. Tolong ambilkan kotak didalam lemari itu nak” sambung
ibunya.Harispun mengambil kotak dilemari reot itu.“ ini bu kotaknya, apa itu
bu?” ucap haris penasaran. Ibunya membuka kotak dan mengambil sebuah benda dari
kotak itu.Benda itu adalah sebuah kalung yang terbuat dari rotan.“ pakai ini
nak. Ini pemberian ayahmu sebelum iya pergi.Carilah ayahmu, gapai cita-citamu
nak. Uhuk-uhuk… Laillahailallah” inilah kata-kata terakhir yang diucapkan
ibunya. Kini sang ibupun telah pergi dengan tenang ke hadirat Allah yang maha
kuasa. Air matapun terkucur deras dari anak ini.Pak mudi yang menemaninyapun
tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.
Setelah
pemakaman sang ibu Harispun berpamitan kepada pak mudi untuk pergi mencari
ayahnya sesuai dengan amanat ibunya. Ia ditemani oleh Badrun, tetangganya. Selain
itu juga haris mengucapkan terima kasih kepada pak mudi yang telah membantunya
selama ini.“ ini bekal untukmu selama perjalanan nak. Hati-hati dijalan ya.Bang Badrun akan menemanimu.”Ucap pak mudi
kepada haris.Harispun hanya mengangguk.
Perlahan-lahan
bayangan haris dan badrunpun mulai menghilang. Kini ia hanya berharap akan
bertemu dengan ayahnya yang telah lama meninggalkannya. Kalau dibilang hidup ia
seakan mati tanpa orang tuanya. Tapi dibilang mati dia masih bisa bernafas.Betapa
tidak beruntungnya nasib anak ini. Sekecil ini ia harus menanggung beban
seberat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar