Minggu, 20 November 2016

Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini penuh dengan tantangan. Berbagai konflik baik secara vertikal maupun horizontal makin terlihat. Keruntuhan orde baru mengakibatkan dihapusnya P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila). Hal ini berakibat tidak adanya lagi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. MPR sebagai lembaga tinggi negara memutuskan untuk membuat pedoman baru yaitu dalam bentuk 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara untuk menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia.

4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara atau yang lebih dikenal sebagai 4 pilar terdiri dari Pancasila, Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. Pancasila ditetapkan sebagai sumber hukum negara Indonesia yang jiwanya harus berada dalam setiap kebijakan, sikap dan perilaku pejabat negara maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan. UUD 1945 ditempatkan sebagai hukum tertinggi dalam tata urutan peraturan Perundang undangan yang berlaku sebagaimana tercantum dalam UU no 12 tahun 2011. NKRI adalah bentuk negara yang tak bisa ditawar tawar lagi apalagi diubah. Sedangkan Bhineka tunggal ika sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, penyebutan dan penempatan pancasila ke dalam 4 pilar mendapat tentangan dari berbagai kalangan. Akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menganulir penyebutan 4 pilar dan MPR tidak boleh lagi menggunakan penyebutan 4 pilar. Keputusan ini di tetapkan pada tanggal 4 april 2014. Penganuliran ini didasarkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang statusnya lebih tinggi dari UUD 1945 sehingga tidak pantas di sejajarkan.

Dibalik semua itu marilah kita kembali ke nilai nilai luhur pancasila untuk menghadapi tantangan Indonesia kedepannya. Semoga Indonesia damai dan sejahtera bukan hanya mimpi. Aamiin

Rabu, 01 Juni 2016

Kisah Hukum di Masa Umar ibn Khatab

Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyuraa bahas aneka soal. Tiga orang muda datang menghadap; 2 bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh nan tertunduk dalam belengguan mereka.

“Tegakkan keadilan untuk kami hai Amiral Mukminin”, ujar seorang, “Qishash-lah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!”

Umar bangkit. “Bertaqwalah pada Allah”, serunya pada semua. “Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”, selidiknya.

Pemuda itu menunduk sesal. “Benar wahai Amiral Mukminin!”, jawabnya ksatria. “Ceritakanlah pada kami kejadiannya!”, tukas Umar.

“Aku datang dari pedalaman yang jauh”, ungkapnya, “Kaumku mempercayakan berbagi urusan muamalah untuk kuseslesaikan di kota ini.”

“Saat sampai”, lanjutnya, “Kutambatkan untaku di satu tunggul kurma, lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut & terpana”

“Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak & ragas-rigis tanamannya”

“Sungguh aku sangat marah & dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini.”

“Wahai Amiral Mukminin”, ujar seorang penggugat, “Kau telah dengar pengakuannya, dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu.”

“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal nan lain. Umar galau & bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu.

“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih & baik”, ujar ‘Umar, “Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”

“Izinkan aku”, ujar Umar, “Meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan Diyat atas kematian ayahmu.”

“Maaf hai Amiral Mukminin”, potong kedua pemuda dengan mata masih nyala memerah; sedih & marah, “Kami sangat sayangi ayah kami.”

“Bahkan andai harta sepenuh bumi dikumpulkan tuk buat kami kaya”, ujar salah satu, “Hati kami hanya kan ridha jiwa dibalas jiwa!”

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur, & bertanggungjawab; tetap kehabisan akal yakinkan penggugat

“Wahai Amiral Mukminin”, ujar pemuda tergugat itu dengan anggun & gagah, “Tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah Qishash atasku.”

“Aku ridha pada ketentuan Allah”, lanjutnya, “Hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah & kewajiban yang tertanggung ini.”

“Apa maksudmu?”, tanya hadirin. “Urusan muamalah kaumku”, ujar pemuda itu, “Berilah aku tangguh 3 hari untuk selesaikan semua.”

"Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan Qishash dalam Al Quran, aku kan kembali 3 hari dari sekarang tuk serahkan jiwaku”

“Mana bisa begitu!”, teriak penggugat. “Nak”, ujar ‘Umar, “Tak punyakah kau kerabat & kenalan yang bisa kau limpahi urusan ini?”

“Sayangnya tidak hai Amiral Mukminin. Dan bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung hutang & tanggungan amanah lain?”

“Baik”, sahut ‘Umar, “Aku memberimu tangguh 3 hari; tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau tepat janji tuk kembali.”

“Aku tak memiliki seorangpun. Hanya Allah, hanya Allah, yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman padaNya”, rajuknya.

“Harus orang yang menjaminnya!”, ujar penggugat, “Andai pemuda ini ingkar janji, dia yang kan gantikan tempatnya tuk di-Qishash!”

“Jadikan aku penjaminnya hai Amiral Mukminin!”, sebuah suara berat & berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al Farisi.

“Salman?”, hardik Umar, “Demi Allah engkau belum mengenalnya! Demi Allah jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!”

“Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu ya Umar”, ujar Salman, “Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya”

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu & menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu sudah.

Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar-mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat khawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri-pengembara iman itu mulia & tercinta di hati Rasul & sahabatnya.Mentari di hari batas nyaris terbenam; Salman dengan tentang & tawakkal melangtkah siap ke tempat Qishash. Isak pilu tertahan.Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit & nyaris merangkak. “Itu dia!”, pekik Umar

Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh & nafas putus-putus ambruk ke pangkuan Umar. “Maafkan aku!”, ujarnya. “Hampir terlambat.”

“Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun & terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari..”

“Demi Allah”, ujar Umar sambil menenangkan & meminumi, “Bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?”

“Supaya jangan sampai ada yang katakan”, ujar terdakwa itu dalam senyum, “Di kalangan muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.”

“Lalu kau hai Salman”, ujar Umar berkaca-kaca, “Mengapa mau-maunya kau jadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama-sekali?”

“Agar jangan sampai dikatakan”, jawab Salman teguh, “Di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara”

“Allahu Akbar!”, pekik 2 pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya, “Allah & kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya”

“Kalian”, kata Umar makin haru, “Apa maksudnya? Jadi kalian memaafkannya? Jadi dia tak jadi di-Qishash? Allahu Akbar! Mengapa?”

“Agar jangan ada yang merasa”, sahut keduanya masih terisak, “Di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.”

Demikian kisah kasus Hukum di zaman Umar yang diambil dari twitter  Salim A. Fillah

Rabu, 09 Maret 2016

Larangan Meniup Makanan dan Minuman Panas

Sunah Rasulullah adalah suatu ajaran yang dicontohkan oleh manusia mulia, Rasulullah Muhammad SAW yang diajarkan kepada umatnya. Setiap sunah yg dicontohkan memiliki suatu korelasi dengan perkembangan sains. Salah satunya adalah larangan meniup makanan dan minuman panas.
Di dalam ilmu sains, hampir semua jenis makanan dan minuman memiliki kadar air di dalamnya, mulai dari konsentrasi air yg rendah hingga tinggi. Ketika kita meniup makanan dan minuman, maka akan keluar gas CO2 yang akan bereaksi dengan air membentuk senyawa asam. Reaksi yang terjadi adalah:

CO2(g) + H2O ==> H2CO3(aq)

Asam yang dihasilkan ini tentunya akan mempengaruhi pH darah dan mengakibatkan efek buruk bagi tubuh. Ketika pH darah berubah secara drastis, akan mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah, karena pada hakikatnya organ tubuh manusia sudah di setting sedemikian rupa. Untuk itu biasakan diri untuk tidak meniup makanan dan minuman panas
Semoga bermanfaat

Sabtu, 05 Maret 2016

Hidup Tak Hidup




Oleh: Afriansyah

Embun pagi ini masih begitu terasa.Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang.Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan.Terlihat sesosok anak kecil yang belum genap berusia 10 tahun.Pakaian putih dan celana merah yang dikenakannya menambah semaraknya pagi ini.
“aku pergi dulu ya mak” ucapnya. “uhuk…uhuk… hati-hati ya nak” jawab ibunya yang sejak seminggu lalu sakit. “hati-hati kalau ketemu konde…nanti kamu terseret” sambung sang ibu yang cemas terhadap anaknya. “iya bu” ucapnya sambil mencium tangan halus dan lembut ibunya. Sang ibu pun mencium keningnya dan seperti mengucapkan sebuah do’a untuknya.
Inilah Haris Nursalam. Sebuah nama yang bagus untuk orang semiskin dia. Nama ini diberikan oleh seorang ustadz di desa Sungai Penibung, Kutipang Raya. Nama ini memiliki arti “penjaga cahaya keselamatan” .dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Ketika dia berumur 6 tahun ayahnya pergi meninggalkannya dan sang ibu untuk pergi bekerja ke ibukota.Sampai kini kabar tentang ayahnyapun tiada didapati.
Sekolah haris memang jauh dari rumah.Jaraknya bisa mencapai 5 km. Apalagi dengan kondisi jalan yang bisa dibilang tidak cukup bagus.Bahkan bisa dibilang hancur. Kalau hujan turun bisa dipastikan haris dan teman yang lain tidak bisa melewati jalan itu.Itupun baru sampai sungai konde yang mengalir deras memisahkan dua perkampungan sederhana.Apalagi semenjak ada pabrik kelapa yang berada didesa sebelah membuat kondisi jalan semakin parah kerusakannya.Hal ini terjadi karena mobil pabrik yang setiap hari beroperasi dengan mengangkat beban yang melebihi kapasitas jalan sehingga jalan banyak yang hancur.
Hidup yang begitu berat ini tidak membuatnya patah semangat dalam menjalani hidup.Selalu saja tampak wajah yang ceria keluar dari parasnya yang mungil.Senyumnya yang khas membuat orang semakin yakin kalau hidupnya tanpa masalah, padahal masalah yang ditanggungnya cukup besar untuk anak sekecil itu.
Sepulang dari sekolah ia harus cepat-cepat pulang kerumah. Tak bisa ia habiskan waktu siangnya untuk bermain bersama-sama dengan temannya yang lain. Ia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan. Bahkan ia harus bekerja untuk bisa makan sesuap nasi.
***
“Assalamualaikum” suara itu terdengar sayup-sayup dihadapan sebuah rumah reyot.Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lantainya terbuat dari batang pohon pinang yang dibelah menjadi 2 kemudian disusun menjadi lantai. Atapnya terbuat dari rumbia.Rumahnya berukuran 5 x 6 meter dengan halaman didepan rumahnya.
Tidak terdengar suara sahutan dari dalam rumah.“Assalamualaikum” Harispun mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Kali ini juga tidak terdengar suara sahutan sang Ibu yang sedang dalam keadaan sakit. Kali ini Haris mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu.
Tampak kekhawatiran di wajah Haris.Firasatnya mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada ibunya.Betapa tidak, dari tadi ibunya tidak juga menyahut salamnya.Sudah beberapa kali pintu rumahnya yang reyot digedornya, tapi suara yang diharapkannya belum juga terdengar.
Saat itu, hari begitu panas.Matahari bersinar begitu terik menembus kulit muka haris yang nampak cemas dengan keadaan ibunya.Orang-orang tidak nampak berkeliaran di desa sungai penibung.Hidupnya bagaikan sendiri dalam sulitnya hidup ini.
Tiba-tiba datang seseorang paruh baya dengan wajah yang selalu terpancar senyum dari bibirnya.Ternyata dia adalah pak Mudi, tetangga Haris yang biasa memberinya uang.Pak Mudi ini merupakan salah satu orang yang terpandang di kampung sungai penibung. Tanahnya yang luas  ditanami berbaris-baris kelapa. Di sanalah biasanya Haris bekerja membantu pak Mudi.
“Kamu mencari ibumu?” kata pak Mudi dengan melemparkan senyum kepada haris.“ ia pak” jawab Haris dengan singkat. “daritadi aku ketuk-ketuk pintu tapi ibu tidak ada menyahut dan membukakan pintu untukku” sambungHaris. “bapak juga daritadi tidak melihat ada ibumu. Biasanya dia duduk diluar”
***
“bapak…aku mau sekolah. Aku ingin seperti yang lain.” Ucap haris kecil. “nanti ya nak, kalau bapak ada uang” jawab sang bapak untuk menenangkan keinginan anaknya. “jawabnya itu terus…aku mau sekolah” teriaknya sambil menangis. “iya nanti bapak carikan uangnya. Udah teruskan mainnya dengan udin bapak mau istirahat dulu” jawab bapak haris menenangkan sang anak.
“tuh dengarkan din.  Aku nanti mau sekolah.Aku mau jadi kepala desa, kamu mau tidak jadi sepertiku din?” kata haris kepada udin teman main congkaknya.“ ah aku ngak mau, nanti aku kayak pak kades yang kemarin dibawa pak polisi kata bapakku dia maling uang.  Aku mau jualan aja kayak bapakku”  jawab udin membalas tawaran Haris. ”hmm… gitu ya din. Tapi aku tidak mau seperti dia din. Aku tidak mau ditangkap polisi nanti kasihan mamaku” harispun menanggapi.
ah kamu curang ne” Harispun berteriak. Ternyata udin berbuat curang saat  bermaincongkak.  Congkak adalah sebuah permainan tradisional yang dimainkan oleh 2 orang  terdiri dari papan congkak dan biji congkak. Biasanya papan congkak terbuat dari kayu, plastik, bahkan bisa dibuat ditanah dengan membuat melubangi tanah.Papan ini terdiri dari 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil disisi pemain dan lubang besar disisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain. Setiap pemain bergantian mengambil buah dari salah satu lubang miliknya kemudian meletakkan satu ke lubang sebelah kanannya dan seterusnya.
“hehe… akhirnya ketahuan juga” ucap udin dengan malu-malu. “ permainan aku sebenarnya mati ni. Sekarang giliranmu” tambah udin yang sudah ketahuan bermain curang. “huh… kecil kecil dah pandai curang” ucap haris. “hehe…” udin hanya bisa senyum-senyum karena udah terlanjur malu.
Betapa bahagianya anak itu.Haris kecil belum begitu mengerti dengan kondisi orang tuanya yang hidup dalam garis kemiskinan.sang ayah mendengar percakapan putranya dan berkata  “Do’akan ayah semoga ayah dapat uang banyak”. “ayah mau kemana?” jawab haris yang masih berusia 6 tahun. “besokayah mau pergi keibukota untuk mencari uang sekolahmu” pesan sang ayah.
Keesokan hari ayah Harispun pergi meninggalkan istri dan anaknya.Dia harus pergi keibukota untuk mencari uang.Harispun hanya bisa terdiam.Sang ayahpun mencium kening putranya dan pergi. Tak lama kemudian sang ayah sudah menghilang dari pandangan si Haris.
***
Haris tak ingin lagi kehilangan orang yang ia sayangi. 4 tahun yang lalu ia telah kehilangan ayahnya yang sampai saat ini belum tau kemana arahnya. Kini ia harus dihadapkan pada keadaan ibunya. “coba kamu ketok lagi iris” kata pak mudi. “kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibumu” terangnya lagi untuk menenangkan Haris yang mulai gelisah.
Setelah lama di gedor belum juga terdengar suara ibu haris. “bagaimana ini pak? Ibu tidakmenyahut panggilan Haris.Apa ibu masih marah dengan haris karena tadi pagi lambat bangun” ucap haris.Terlihat mata Haris kini sudah mulai berkaca-kaca. “ya udah. Kita dobrak aja bagaimana?” sahut pak Mudi memberikan solusi. “nanti bapak yang akan memperbaiki pintumu” tambahnya.
Harispun setuju untuk mendobrak pintu rumahnya yang sudah tampak tua.Maklum rumah itu merupakan rumah peninggalan neneknya Haris yang telah meninggal ketika Haris berusia 2 tahun.Walaupun rumah tua, ternyata mereka berdua kesulitan untuk mendobrak rumah itu.Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pintu itu berhasil terbuka.
Setelah pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Haris melihat kondisi ibunya yang terlihat tidak berdaya diatas tikar.Selama ini haris dan ibunya tidak pernah merasakan empuknya tidur diatas kasur.Selama ini mereka hanya tidur beralaskan tikar.Begitu kasihan melihat penderitaan yang dialami oleh ibu haris.Matanya hanya bisa menatap anaknya yang matanya sudah berkaca-kaca.
“nak…” panggil ibunya lirih. Harispun mendekati ibunya yang sedang sekarat. “ibu sudah tidak kuat lagi nak. Tolong ambilkan kotak didalam lemari itu nak” sambung ibunya.Harispun mengambil kotak dilemari reot itu.“ ini bu kotaknya, apa itu bu?” ucap haris penasaran. Ibunya membuka kotak dan mengambil sebuah benda dari kotak itu.Benda itu adalah sebuah kalung yang terbuat dari rotan.“ pakai ini nak. Ini pemberian ayahmu sebelum iya pergi.Carilah ayahmu, gapai cita-citamu nak. Uhuk-uhuk… Laillahailallah” inilah kata-kata terakhir yang diucapkan ibunya. Kini sang ibupun telah pergi dengan tenang ke hadirat Allah yang maha kuasa. Air matapun terkucur deras dari anak ini.Pak mudi yang menemaninyapun tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.
Setelah pemakaman sang ibu Harispun berpamitan kepada pak mudi untuk pergi mencari ayahnya sesuai dengan amanat ibunya. Ia ditemani oleh Badrun, tetangganya. Selain itu juga haris mengucapkan terima kasih kepada pak mudi yang telah membantunya selama ini.“ ini bekal untukmu selama perjalanan nak. Hati-hati dijalan ya.Bang Badrun akan menemanimu.”Ucap pak mudi kepada haris.Harispun hanya mengangguk.
Perlahan-lahan bayangan haris dan badrunpun mulai menghilang. Kini ia hanya berharap akan bertemu dengan ayahnya yang telah lama meninggalkannya. Kalau dibilang hidup ia seakan mati tanpa orang tuanya. Tapi dibilang mati dia masih bisa bernafas.Betapa tidak beruntungnya nasib anak ini. Sekecil ini ia harus menanggung beban seberat ini.
----selesai----



Jumat, 04 Maret 2016

Ahlan wa Sahlan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pembaca yang budiman,

Selamat datang di dunia chemios. Dapatkan informasi mengenai dunia sains islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Penulis berharap blog ini bisa menjadi salah satu perpustakaan pembaca yang sealu menginspirasi dan menambah khasanah ilmu pengetahuan pembaca.

Kritik dan saran yang membangun tentu sangat diharapkan dari pembaca semua.

Semoga Allah selalu menghadapkan hati kita kepadanya

1 juni 2016/25 sya'ban 1437 H